Minggu, 20 Februari 2011

Legenda Burung Merak yang Sombong

Ada seekor burung merak buruk rupa. Ekornya rusak, bulunya kutuan, kulitnya budukan. Badannya menebarkan aroma bau yang tidak sedap. Semua unggas menjauhinya. Orang-orang kampung selalu mengusir dan melemparinya dengan batu, takut tertular penyakitnya. Anak-anak sangat memusuhinya sampai menceburkan dia ke kali. Untung merak itu dapat diselamatkan oleh Parmo dan Parmi. Meskipun buruk dan bau, Parmo dan Parmi merawatnya dengan baik, dibuatkan tempat khusus di halaman rumahnya. Parmo dan Parmi selalu mengajaknya bermain, sehingga Parmo dan Parmi akhirnya dijauhi teman-temannya.

 

Wanto dan Wanti adalah anak Kades yang paling benci pada Merak baru itu. Dia selalu melemparinya dengan batu. Suatu hari, karena keusilannya pada merak itu, Wanto dan Wanti kecebur ke kolam mandi Merak. Tubuh Wanto dan Wanti terkena gatal-gatal. Pak Kades marah dan mengerahkan seluruh warga desa untuk mengusir Merak itu. Merak itu dilempari dengan batu dan melarikan diri hingga ke telaga bidadari. Di telaga itu dia menangis sedih. Bidadari telaga muuncul menolong Merak itu. Merak kemudian diubah menjadi cantik dan indah, serta berbau wangi, tapi kecantikan itu justru membuat Merak menjadi sombong. Dia tidak mau berteman dengan Parmo dan Parmi yang miskin. Dia memilih ikut keluarga Pak Kades yang kaya raya, meskipun dulu paling membencinya. Sejak ikut keluarga Pak Kades, Merak semakin sombong.

Suatu hari Raksasa di hutan terusik ketentramannya oleh penebangan hutan yang dipimpin Pak Kades dan Pak Darsono, bos dari kota untuk pembangunan vila. Raksasa itu mengamuk ke desa. Raksasa bersedia berdamai dengan Pak Kades asal diberi makan burung Merak yang paling indah dan berbau wangi. Pak Kades akhirnya memberikan Merak itu pada Raksasa. Raksasa mencabuti bulu-bulu merak. Merak menjerit-jerit kesakitan dan minta tolong. Memanggil-manggil nama Parmo dan Parmi. Dengan kekuatan ganggang air pemberian Bidadari Telaga, Parmo dan Parmi berhasil mengalahkan si Raksasa, sehingga kembali ke hutan.

Merak yang sombong akhirnya insaf. Dia meminta maaf pada Parmo dan Parmi atas segala kesombongannya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Makalah Manajemen Sumber Daya Manusia

Posting Populer