Saturday, 5 March 2011

Copet

"Kamu lagi di mana Jo?" Terdengar pertanyaan dari seberang.
"Di Mal Segi tiga." Aku menjawabnya sedikit berteriak. Di sekelilingku ramai sekali. Aku hampir tak bisa mendengar suara Anna di telepon ini.
"Halo…halo…Anna, halo!" Aku berteriak makin keras. Orang-orang di sekeliling memperhatikanku.
Tuuut. Sambungan telepon putus. "Telepon payah!" Kugebrak telepon itu. Kuambil HP di saku celanaku. Kucari nomor telepon Anna. Aku tak hafal betul nomor telepon rumahnya. Sekali lagi kumasukkan koin ke telepon umum itu. Kali ini tak kudengar suara apa pun dari telepon itu. Uangkupun tak dapat keluar. "Sialan!" Brak!
Kutinggalkan telepon sialan itu. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong plasa. Para pengemis duduk berbaris di sepanjang lorong. Mereka bersandar di tembok sebuah restoran.
Tembok setinggi satu meter dengan kaca lapis di atasnya. Terlihat pengunjung restoran berpakaian perlente makan dengan gaya yang telah ditentukan. Tembok bercat merah itu tidak hanya berfungsi sebagai pembatas restoran, tapi juga pembatas dua kehidupan yang berseberangan.
Sejenak kuhentikan langkahku tepat di ujung lorong. Tempat ini agak sepi. Para pengunjung mal sedikit kutemui daripada di tempat aku menelepon tadi. Kurasakan getaran HP-ku di celana.
Kulihat ada sebuah pesan. Anna mengirimiku SMS. Aku membacanya sambil menundukkan topi hitamku yang agak terangkat. Aku suka sekali memakai topi yang lengkungan penutupnya sampai menutup mata.
"Hasil berapa Mas?" Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh ke arahnya. Seorang laki-laki berdiri tepat di hadapanku. Tampangnya menyeramkan. Kulihat tangan kanannya penuh tattoo. Ia juga memakai topi sepertiku. Ia lalu berjongkok di sebelahku. Mau tak mau aku pun harus berjongkok agar sejajar dengannya.
"Pasien lagi sepi," katanya kemudian. Aku masih tak menanggapinya. Sesaat, aku baru mengerti bahwa laki-laki itu menganggap aku rekan seprofesinya. Seorang copet.
Saat ini, aku memakai celana robek di bagian lutut kanan dan topi warna hitam, persis seperti yang dikenakan laki-laki itu. Keinginanku untuk mengenalnya mengalahkan rasa takutku.
Aku berlagak layaknya copet. Tampaknya laki-laki itu betul-betul mempercayaiku. Ia sama sekali tidak curiga. Ketika SLTA dulu aku memang sering nongkrong bersama para preman plasa. Aku tahu betuk karakteristik mereka. Dan saat ini aku harus berakting menjadi mereka.
"Wah, dapat 7650 ya?" kata laki-laki itu sambil terus memperhatikan HP yang ada di tanganku.
"Yoi," jawabku mantap. Sepertinya ia menilai aku tak pantas memegang HP mahal itu. Pakem barang mahal hanya pantas dipegang orang-orang berdasi melekat di kepalanya. Dan kali ini ia membuat pakem baru, jika orang berpakaian serampangan seperti aku ini membawa barang mahal berarti maling.
"Di Gunung Agung tadi, punya cewek," kataku lagi.
"Saku belakang?" tanyanya.
Aku cuma mengangguk. Ia memgambil sesuatu dari saku bajunya.
"Hari ini sial, saya benar-benar apes. Cuma dapat T10s." Laki-laki itu memperlihatkan sebuah HP warna biru di tangannya.
"Terima sajalah. Kan sudah rezeki masing-masing." Aku sok menghiburnya. "Sudah lama jalan di sini?"
"Baru dua minggu," jawabnya.
"Udah kenal semua yang megang daerah sini?" tanyaku dengan suara kumantap-mantapkan. Ia menggeleng menjawab pertanyaanku. Aku semakin percaya diri untuk ngobrol dengannya.
"Saya juga baru jalan dua minggu. Tapi saya kenal akan sini," kataku membual.
"Saya bangga kok jadi pencopet. Pencopet tak pernah mencopet sesama pencopet. Tidak seperti pejabat yang saling makan itu." Laki-laki itu bicara panjang lebar. Ia terus saja berbicara. Ia menceritakan masa lalunya.
Aku sedikit tersentuh mendengarnya. Tapi aku tetap menjaga sikapku agar tidak ketahuan. Ia kemudian menawariku sebungkus roti. Serasa seperjuangan, aku memakan habis roti pemberiannya. Ia juga memberiku sebotol air mineral. Akhirnya kami berdua tertidur di lorong itu.
Matahari semakin terik kurasakan masuk menerobos kelopak mataku. Aku terbangun dari tidurku. Banyak orang lalu lalang di pinggirku. Kulihat sampingku. Tak kudapati laki-laki tadi. Hanya bungkus bekas roti dan botol air mineral. Jantungku mulai berdegup kencang. Kuraba saku celanaku. Dompet dan HP-ku…
"Bangsat! Copet bangsat!"
Oleh: Miko WibisonoPenulis adalah mahasiswa Univ. 17 Agustus Surabaya

No comments:

Post a Comment